Tuesday, November 15, 2011

Bisnis Beretika ala Julius Tahija


shutterstock


Bisnis yang beretika dan humanis.
Kesan itu sedemikian kental tertanam di benak rekan-rekan dan yuniornya dalam bekerja. Selain dikenal sebagai sosok yang tegas dan disiplin, dia juga sangat jujur. Namun, gaya kepemimpinan dia tetap membumi dan tidak menonjolkan diri.
Dia adalah Julius Tahija, orang Indonesia pertama yang menduduki jabatan tertinggi di Caltex (dikenal sebagai PT Caltex Pacific Indonesia/sekarang Chevron), yakni sebagai Ketua Dewan Direksi. Jabatan itu dia raih pada tahun 1966, setelah mengawali karier di bidang perusahaan minyak dan gas tersebut pada tahun 1951 sebagai Assistant to the Managing Director.
Sisi-sisi Julius Tahija itu muncul dalam diskusi di sela-sela peluncuran dua buku Julius Tahija di Jakarta, Sabtu (8/10/2011). Mantan Menteri Lingkungan Hidup Emil Salim dan mantan Presiden Direktur CPI Baihaki Hakim menyampaikan kesan mereka soal Julius Tahija.
Buku pertama, Melintas Cakrawala, adalah otobiografi yang mengisahkan filsafat hidup dan etika bisnis Julius Tahija. Buku tersebut merupakan terjemahan dari buku berjudul Horizon Beyond yang diterbitkan Time Edition Pte Ltd tahun 1995.
Pada tahun 1997, edisi pertamanya dalam bahasa Indonesia berjudul Melintas Cakrawala dan diterbitkan PT Gramedia Pustaka Utama. Edisi kedua dalam bahasa Indonesia diterbitkan Yayasan Tahija pada tahun 2011.
Buku kedua, Memimpin dengan Nurani, diterbitkan oleh Yayasan Tahija tahun 2011. Buku ini berisi kesan dan pelajaran bisnis dari delapan orang yang bersinggungan dengan Julius Tahija dalam pekerjaan.
Mereka antara lain Baihaki Hakim yang tegas mengaku sebagai murid Julius Tahija, Menteri Keuangan Agus Martowardojo yang memandang Julius Tahija sebagai salah seorang yang dikagumi, dan Presiden Direktur PT CIMB Niaga Arwin Rasyid yang mengenal Julius Tahija sebagai Komisaris Bank Niaga.
Hati nurani
Julius Tahija, yang lahir di Surabaya pada 13 Juli 1916, memiliki catatan karier bisnis yang panjang. Mantan sersan KNIL yang menikah dengan Jean itu meninggal dunia pada 30 Juli 2002, saat menjabat sebagai Ketua Emeritus Dewan Komisaris PT Caltex Pacific Indonesia. Dia memperoleh Bintang Mahaputra Nararya dari Pemerintah Indonesia dan Honorary Officer in the Order of Australia yang diserahkan Perdana Menteri Australia John Winston Howard pada Februari 2002.
Baihaki Hakim dalam diskusi yang dimoderatori wartawan senior Sabam Siagian menyebutkan, Julius Tahija adalah pebisnis yang menonjolkan hati nurani. Dia tidak menggunakan trik untuk memanfaatkan profit.
”Beliau adalah orang yang sangat low profile. Tidak menonjolkan keberhasilan kita. Saat itu, kan, memang tidak banyak perusahaan asing di Indonesia. Jadi, jangan sampai menimbulkan kecemburuan,” ujar Baihaki.
Emil Salim bertemu Julius Tahija tahun 1981. Saat itu Julius Tahija, yang meminta bertemu, memaparkan keberadaan sumber minyak di bawah Danau Zamrud yang kaya ekosistem di wilayah Sumatera.
Menurut Emil yang diajak Julius Tahija untuk datang ke lokasi tersebut, Julius Tahija dengan tegas menyatakan tidak akan merusak danau tersebut dan hutan di sekelilingnya jika nantinya mengeksplorasi sumber minyak di bawah danau. Akhirnya, Julius Tahija menggunakan teknologi bor untuk membuat sumur minyak yang miring, tidak tegak lurus dengan permukaan tanah, sehingga tidak merusak danau di atasnya. Biayanya jutaan dollar AS, cukup tinggi pada masa itu.
”Agak aneh juga. Perusahaan minyak, yang biasanya menggasak lingkungan, kali ini membela lingkungan,” ujar Emil, disambut tawa tamu yang hadir.
Di luar segala sisi etis dan humanisnya dalam berbisnis, Julius Tahija tetap seorang ayah, suami, dan kakek yang luar biasa dicintai keluarganya. Ia memiliki dua putra, yakni George Tahija dan Sjakon Tahija, serta lima cucu. ”Nilai yang diajarkan bagi kami adalah jujur kepada orang lain dan diri sendiri. Sikapnya sama di perusahaan dan di depan keluarga,” kenang George.
Julius Tahija selalu hidup seimbang antara pekerjaan dan keluarga. Di sela-sela kesibukan, dia juga selalu mengusahakan waktu bagi istri, anak-anak, dan cucu-cucunya.
Seperti disampaikan George dalam acara peluncuran buku tersebut, ”Ayah adalah pekerja keras sekaligus pemerhati sosial budaya di Indonesia. Namun, di balik semua itu, dia tetap ayah dan suami bagi keluarganya.”

sumber:kompas.com

0 comments

Post a Comment

Paling Dilihat