Wednesday, November 16, 2011

Tangisan Tukang Becak di Jakabaring

Seorang anak melintas di samping becak yang dipersiapkan untuk transportasi ajang SEA Games XXVI/2011 di kompleks olahraga Jakabaring, Palembang, Sumatera Selatan, Sumatera Selatan, Kamis (10/11/2011). Becak, sepeda, angkutan kota dan bus berbahan bakar gas menjadi angkutan di kompleks olahraga Jakabaring selama SEA Games XXVI/2011.
KOMPAS.com — Lantaran merasa "dianiaya" selama tiga hari tanpa ampun, sekelompok tukang becak mengambek dan memutuskan menempuh jalan sendiri. Setelah tiga hari menggenjot becak, para tukang becak itu belum memperoleh bayaran dari Panitia SEA Games XXVI/2011 Sumatera Selatan.

Awalnya, antara para tukang becak dan panitia ada perjanjian bahwa becak diperuntukkan sebagai transportasi gratis bagi atlet, ofisial, dan wartawan yang memiliki tanda pengenal. Pihak panitia berjanji yang akan menanggung ongkos becak sebesar Rp 200.000 per hari.
Karena sampai hari ketiga belum pula mendapatkan bayaran, para tukang becak memutuskan "mogok" kerja sejak Jumat (11/11/2011). Para tukang becak menyatakan, menggenjot becak di area seluas 325 hektar di bawah terik matahari pasti melelahkan. Mereka membutuhkan ongkos untuk biaya hidup sehari-hari bersama keluarga.
"Tadi kami mogok narik dari pagi sampai pukul 12.00," kata salah satu penarik becak yang kesal saat mencurahkan isi hatinya kepada rombongan wartawan yang tengah istirahat di pul becak Jakabaring.
Sampai Jumat tengah hari, para tukang becak bersedia berkompromi untuk menarik becak dengan catatan semua penumpang harus membayar langsung. Tidak ada becak gratis lagi.
Selama SEA Games, panitia mengerahkan 325 becak yang digunakan untuk sarana transportasi gratis. Mereka berjanji, pengunjung yang memiliki tanda pengenal tidak dipungut bayaran, sedangkan pengunjung lain harus membayar seperti biasa.
"Kami belum dapat uang sejak tiga hari lalu. Mulai hari ini, kami menarik bayaran dari penumpang," kata Bambang, salah satu penarik becak.
Tak hanya itu, mereka juga ngambek karena seolah-olah tak diperhatikan panitia. Sarapan, kata mereka, dirangkap makan siang dan baru mereka peroleh pukul 15.00.
"Kami sudah mau mati kelaparan baru dikasih makan. Tak ada air sama sekali, padahal panas bukan main. Tega nian para pengurus ini kepada kami," kata tukang becak lainnya.
Arifin, juga penarik becak, mengatakan, "Dana belum keluar, makan pun cuma diberi sekali. Keluarga di rumah tak ada pemasukan sama sekali. Sekarang, kasih uang berapa pun kami antar ke dalam kepada calon penumpang," katanya.
Akibat ngambeknya para tukang becak, banyak orang yang menggunakan tanda pengenal SEA Games kecewa karena ketika hendak naik becak dipungut bayaran. Hingga sore, para tukang becak itu masih sibuk mengangkuti penumpang. Kali ini mereka menggenjot becak dengan senang hati karena mendapat bayaran langsung dari penumpang. Wah, memang lebih baik main cash saja ya ketimbang menunggu rapat panitia untuk mengeluarkan uang.... (IRE/WAD)
sumber:kompas.com

0 comments

Post a Comment

Paling Dilihat