Thursday, January 19, 2012

Warna Merah dalam Arti Tradisi Unik Imlek

Kemeriahan tahun baru China atau biasa dikenal Imlek sudah terasa. Padahal hari raya warga Tionghoa itu masih tiga hari lagi yakni 3 Februari mendatang, namun kemeriahan sudah terlihat.
Kemeriahan ini tidak hanya dirasakan oleh masyarakat di China, namun juga warga Tiongkok yang ada di belahan dunia, tak terkecuali di Indonesia. Salah satunya dirayakan oleh warga Semarang, Jawa Tengah.
Di Indonesia, warga keturunan di Semarang termasuk dominan. Wajar saja kalau kemeriahan tersebut tidak hanya terlihat di pecinan, namun menjalar hingga sejumlah jalan di Semarang.
Okezone mencoba merasakan kemeriahan tersebut dengan mendatangi kawasan pecinan. Suasana serba merah telah terlihat mulai dari ujung pecinan hingga setiap rumah di wilayah tersebut.
Lampu lampion berwarna merah dan hiasan serba merah seakan telah melebur dengan cat di perkampungan ini. Wajar jika semua pernak pernik diberi warna merah, karena warga China mempunyai makna tersendiri atas warna tersebut.
Sejumlah kalangan menilai warna merah tersebut melambangkan sesuatu yang kuat, memiliki makna sejahtera, membawa berkah dan hoki. Ada pula yang mengartikan sebagai merah itu ditakuti oleh setan dan roh jahat, mungkin ada juga yang berpendapat bahwa merah simbol pertanda adanya keberuntungan dan suka cita.
Namun khas warna merah dalam tardisi tahun baru imlek telah melekat dari turun temurun. Tradisi unik lainnya yakni membersihkan sejumlah patung di dalam klenteng.
Penasaran dengan hal tersebut, penulis pun menyusuri setapak demi setapak jalan menuju sebuah kleteng tua di wilayah tersebut. Penulis melihat beberapa klenteng dipadati oleh para umat, padahal hari ini bukan hari sembahyangan dan masih terlalu pagi untuk melakukan ritual sembahyangan.
Kaki penulis pun terhenti di sebuah klenteng terkenal di kawasan pecinan yakni Tay Kak Sie, tepatnya di gang Lombok. Bangunan lawas dengan etnik tiongkok terlihat dari desainnya.
Tak ingin ketinggalan, penulis pun memasuki jalan di dalam klenteng. Seorang wanita keturunan Tionghoa tampak asyik dengan apa yang dilakukannya, dan ketika penulis dekati dengan ramah dia tersenyum. Sambutan hangat terpancar dari wanita berusia 50 tahun itu.
Dia pun memperkenalkan diri dengan nama Tee Hwa Yoen. Tak tanggung-tanggung, ternyata Tee Hwa ternyata berasal dari Vancouver, Kanada. Penulis pun terkagum, dia mengaku ke klenteng ini hanya untuk ikut berpatisipasi dalam acara memandikan patung dewa yang ada di klenteng tersebut.
“Saya sengaja pulang setahun sekali ke Indonesia untuk ikut ritual ini dengan keluarga saya. Di sini beda banyak orang dan ramai tidak seperti di Vancouver, sepi,” ceritanya saat ditanya perihal perjalanan jauhnya itu.
Tee Hwa merasa lebih berbahagia saat ikut beramai ramai dengan para familinya mengikuti ritual memandikan patung dewa di klenteng Tay Kak Sie ini. Tee Hwa ternyata satu dari puluan umat klenteng yang beraliran TriDharma itu.
Warga menilai pembersihan ini sebagai makna membersihkan diri dari segala hal. Mereka berharap di tahun yang baru itu mendapatkan keberuntungan atau hoki, serta dimudahkan dalam segala hal.
Salah satu Cia Lo Chu (abdi dalam) klenteng Tay kak Sie bernama  Go Ping Siang menjelaskan, ritual memandikan patung dewa memang dilakukan setelah sehari sebelumnya umat klenteng melakukan sembahyang.
Mereka menyakini di hari tersebut para dewa akan naik ke khayangan menemui Tuhan untuk melaporkan semua yang manusia lakukan dan amati setahun ini di bumi.
”Dewa naik ke khayangan dan kita kemarin melaksanakan sembahyang untuk mengantarkan para dewa tersebut,” ungkapnya.
Persiapan ini memang dilakukan untuk menyambut datangnya hari raya Imlek pada 3 Februari nanti. Setelah doa menghantarkan para dewa dewi atau Kong Co naik ke khayangan atau langit, barulah mereka melakukan bersih-bersih patung para Kong Co itu.
Selama dalam masa menunggu kedatangan Imlek itu, umat klenteng Tay Kak sie sama sekali tidak melakukan berbagai macam kegiatan di klenteng kecuali bersih-bersih klenteng dan memandikan patung para Kong Co.

sumber:http://baruga.mahafatna.com/warna-merah-dalam-arti-tradisi-unik-imlek/

0 comments

Post a Comment

Paling Dilihat